Refleksi Tentang Gembala Keuskupan Agats: Mgr. Aloysius Murwito, OFM


DENGAN HATI NURANI, IA MENGGEMBALAKAN KAWANAN DOMBANYA

“Ia Berpikir Sistematis Sekaligus Bertindak Fleksibel”

Pengantar

Di dunia, kita mengenal dan menjumpai pelbagai tipe pemimpin. Mereka memimpin dengan karakter dan gaya kepemimpinannya masing-masing. Di dunia pemerintahan, kita menemukan figur-figur pemimpin dengan model kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada pemimpin yang memiliki kecerdasan yang dominan. Pemimpin yang cerdas secara intelektual (Intelligence Quotient) menekankan dimensi intelektualitas dalam kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas secara fisik (Physical Quotient) akan menekankan pengembangan aspek-aspek fisik lahiriah. Pemimpin yang cerdas secara emosional (Emotional Quotient) senantiasa merawat dan memelihara relasi sosial yang harmoni antara pelbagai elemen di dalam kehidupan bermasyarakat. Pemimpin yang cerdas secara spiritual (Spritual Quotient) senantiasa melihat segalanya dalam perspektif Tuhan.

Sebagai seorang gembala umat di Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM yang akrab disapa Uskup Alo, dikenal luas oleh umat Katolik maupun non-Katolik. Sebagai Imam Dioses Agats, saya memiliki pengalaman bersama Uskup Alo yang dapat dibagikan dalam refleksi ini. Siapakah Uskup Alo menurut pengalaman pribadiku?


Ia menghargai setiap orang sebagai “Pribadi yang utuh”

Sebagai sang Gembala, Uskup Alo memiliki paradigma tersendiri tentang manusia. Ia  sangat menghargai setiap orang karena paradigmanya tentang manusia sebagai pribadi yang utuh yang memiliki tubuh, pikiran, hati, dan roh yang berbeda dengan benda dan hewan. Uskup Alo berelasi dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latarbelakangnya. Orang yang menjumpainya untuk berbagi pengalaman dan pergumulan, akan selalu didengarkan dan diberi nasehat serta peneguhan. Uskup Alo adalah gembala yang mengampuni. Ia lebih memilih untuk mengampuni orang daripada menyalahkan. Ia tidak gegabah dalam mengambil keputusan atau membuat sebuah kebijakan, entah menyangkut kepentingan banyak orang ataupun pribadi tertentu. Ia memandang pribadi manusia dan segala sesuatu selalu dari perspektif yang berbeda. Ia selalu melihat kebaikan di dalam setiap pribadi orang dan mengedepankan harapan, optimisme, serta solusi di balik setiap problem.

Sang Uskup adalah bapa yang baik hati. Ia mengasihi tanpa syarat sama seperti yang dikisahkan di dalam Injil tentang “Anak yang hilang dan Bapa yang baik hati.” Ketika anak yang hilang datang kepada bapanya, ia berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Namun tatkala memandang anaknya dari kejauhan, Bapa yang baik hati itu segera mendapatkannya, lalu merangkul dan menciumnya dengan penuh kasih(bdk. Luk. 15:11-32).

Uskup Alo sedemikian murah hati untuk menerima dan memaafkan orang,karena ia sungguh meyakini bahwa secara unik, setiap manusia memiliki “suara dari dalam” hatinya, yaitu suara yang memanggil setiap orang secara personal. Setiap orang dipanggil untuk terbuka mendengarkan suara itu. Maka dalam kondisi apapun yang dialami oleh setiap orang, Uskup Alo selalu mengkondisikan agar setiap orang yang ada di sekitarnya dan melalui model kegembalaannya setiap orang dituntun untuk menemukan serta mendengarkan suara dari dalam hatinya sendiri. Perubahan itu harus muncul dari diri setiap pribadi. Apa yang diajarkan oleh Sang Uskup ini mengungkapkan penghayatan hidup, keteladanan dan karakter kegembalaannya. Seluruh hidup dan tindakannya merupakan wujud dari sikap sang Gembala yang menggembalakan kawanan dombanya dengan tuntutan suara yang memanggil dari dalam hatinya. Suara itu ialah “Hati Nurani.”


Ia menggembalakan kawanan dombanya dengan “tuntutan suara Hati Nurani”

Hati Nurani merupakan suara yang dengan tenang dan halus mengatakan kepada kita apa yang benar. Dalam bukunya, The Eight Habit: From Effectiveness to Greatness (2004), Stephen R. Covey menegaskan bahwa kepemimpinan bukan terutama soal peranan atau posisi. Kepemimpinan merupakan peluang untuk membantu orang lain menemukan dan mencapai potensi diri yang tersembunyi. Uskup Alo, dengan dituntun oleh suara dari dalam hatinya (hati nurani), ia pun menuntun setiap orang untuk mengikuti pula suara dari dalam hatinya sendiri yaitu hati nurani, dan mengembangkan semua potensi di dalam dirinya.

Sang Uskup selalu menginspirasi banyak orang. Ia berpikir kritis, logis dan sistematis, sekaligus mampu membuat setiap orang dapat mengerti dan menyadari maksud pemikirannya dengan penjelasan kata-katanya yang singkat dan padat, teristimewa dengan kesederhanaan hidupnya yang sungguh sangat sarat akan makna. Ia pun mengekspresikan karakter pribadinya yang khas dalam penampilan fisik yang ugahari, dan melalui gaya hidupnya yang lepas bebas, tidak mengagungkankuasa dan prestise sertajabatan publik sebagai pejabat gereja, dan tidak dikuasai segala macam bentuk tawaran duniawi. Sang Uskup sungguh menghayati kesederhanaan hidup secara sangat radikal sebagai seorang Fransiskan. Kesederhanaan hidupnya mengungkapkan betapa dalam imannya kepada Allah, penyerahan diri, serta kepasrahannya yang total kepada kehendak Allah. Ia meyakini bahwa segalanya adalah milik kepunyaan Allah yang dianugerahkan kepada manusia dan akan diambil kembali. Maka, hanya Allah yang menjadi pusat hidupnya, dan di dalam Allah segalanya dapat disempurnakan.

Sebuah kata-kata doa inspiratif bunyinya, “In Manus Tuas, Domine, commendo spiritum meum”: Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan rohku. Sang Pemazmur pun melukiskan kenyataan akan sisi keterbatasan dan ketakberdayaan diri manusia, berhadapan dengan kerasnya dunia yang seringkali menyulitkan manusia. Dalam situasi ini, manusia disadarkan akan kekuatan Allah yang mengatasi segalanya dan menjadi kekuatan manusia. Maka, dalam segala kesulitannya, manusia harus mengarahkan seluruh diri dan perjalanan hidupnya kepada Allah dengan penuh iman, harapan, dan kasih. Kepribadian Sang Uskup dan kualitas personal, serta penghayatan hidupnya yang sangat sederhana terlukiskan di dalam Moto Episkopalnya yakni “In Deo Speravi, Non Timebo” yang terkutip dari kata-kata Sang Pemazmur, yakni “Kepada Allah Aku Percaya, Aku Tidak Takut (Mzm. 56:5).

Keagungan atau kebesaran (the greatness) seseorang bukan disimbolkan oleh busana indah, tidak diukur oleh jubah yang berwarna-warni, tidak terlihat pada fisik yang kuat, pada kata-kata yang memerintah, memaksa, dan melukai, tidak merujuk pada posisi atau jabatan, dan tidak terlihat pula oleh bangunan yang megah. The Greatness datang dari kekuatan suara dari dalam hati (hati nurani) yang membentuk keyakinan setiap orang pada prinsip-prinsip hidup, sehingga kehadirannya membuat orang lain pun terinspirasi dan bertumbuhkembang ke arah yang lebih baik. Uskup Alo selalu mengakui orang lain, apapun keberadaannya. Ia menyatu dengan siapapun melalui visi bersama, dan selalu memberdayakan setiap orang untuk menggunakan kekuatan-kekuatan positif di dalam dirinya. Uskup Alo adalah pribadi dan gembala yang mencapai “the greatness” dalam tiga tingkatan. Ia adalah pribadi yang hebat (personal greatness), ia adalah pemimpin yang besar (leadership greatness), dan ia adalah organisator yang luar biasa (organizational greatness).

Pribadi yang hebat (personal greatness) tercermin di dalam pengembangan potensi diri, adanya visi yang terarah, dan memiliki daya tahan, serta terbuka pada suara nurani dari dalam hatinya. Dalam pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu, Uskup Alo tidak hanya sekedar mengandalkan dan mengikuti pertimbangan akal budi semata. Sang Uskup selalu masuk ke dalam hatinya untuk mendengarkan suara dan kehendak Allah, merenungkannya, serta mengikuti suara itu sebagai cahaya (Nur – Nurani) yang menerangi setiap kata, sikap, dan tindakannya. Ia sungguh menyadari bahwa pertimbangan akal budi manusia selalu terbatas. Oleh karena itu, upaya untuk masuk ke dalam hati dan mendengarkan suara dan gerakan Roh Kudus adalah mutlak perlu sebagai kekuatan dalam bertindak.

Pemimpin yang besar (leadership greatness) mendengar suara dalamnya sendiri dan menginspirasi orang lain tanpa membedakan posisi atau jabatan mereka yang dipimpinnya. Setiap orang mestinya berubah dan bertumbuh ke arah yang lebih baikkarena perhatiannya terarah sepenuhnya kepada kebaikan dan kebenaran.Dengan karakter dialogis, keterbukaan, dan kebapaan, Uskup Alo menampilkan wajah gembala dan tempat dimana setiap orang memandang kebaikan dan kebenaran.Organisasi yang hebat secara sistematis mengarahkan setiap orang dalam lingkungannya pada tujuan-tujuan yang lebih tinggi dimana telenta-talenta ditemukan dan dikembangkan. Dalam kegiatan-kegiatan kebersamaan, Uskup Alo terlibat dan hadir di dalamnya, entah rapat atau pertemuan bersama, doa bersama, rekreasi, maupun makan bersama.

Uskup Alo tidak hanya membatasi pelayanannya di seputaran pusat Keuskupan yakni kota Agats. Sang Uskup bergembira dan menikmati kehadirannya di tengah-tengah umat di paroki dan stasi-stasi pedalaman untuk merayakan ekaristi. Ia senang berjumpa dan berdialog dengan umat yang dikunjunginya di paroki atau stasi. Dengan pembawaannya yang santai, penampilannya yang sederhanya, serta ekskpresi kata-kata humor, Sang Uskup sungguh menembus batas jarak dengan kawanan dombanya. Domba-domba tidak merasa takut, ragu, dan minder untuk menjumpai Sang Gembalanya. Mereka senang mendekati dan duduk berbincang-bincang dengan Sang Gembalanya karena sosok dan pembawaan yang santai, terbuka dan familiar.


Ia tekun berdoa dan ekaristi, berkontemplasi dan berefleksi dalam keheningan batin

Jalan menuju persatuan dengan Tuhan ialah doa, Ekaristi, kontemplasi dalam keheningan batin, dan refleksi. Uskup Alo patut diteladani dalam hal doa, ekaristi kudus, kontemplasi dan refleksi dalam keheningan batin. Saya menyaksikan secara langsung perjumpaan dengan Uskup Alo pada momen Kunjungan Kanonik ke paroki-paroki di pesisir pantai. Pada tahun 2020, saya mengikuti Bapa Uskup bersama rombongan menuju beberapa paroki, salah satunya ialah Paroki Hati Kudus Pirimapun. Di rumah pastoran Pirimapun, saya duduk bersama Uskup Alo usai makan malam. Saat itu saya sedang menyediakan obat bagi Sang Uskup. Setelah selesai meminum obat, secara spontan Sang Uskup pun berkata kepada saya demikian, “Secara fisik, saya sudah tidak kuat lagi karena sudah beberapa kali tubuh saya dioperasi. Hidup saya sampai saat ini merupakan bonus dari Tuhan.”

Setelah sekian tahun lamanya, momen dan kata-kata yang sama dari Sang Uskup terdengar kembali di telinga saya ketika saya sebagai frater yang bertugas melayani umat di Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius Suator. Bulan Desember 2022, Uskup Alo bersama rombongan melayani umat Kuasi Paroki Suator pada Hari Raya Natal. Tempat pertama yang dikunjungi Sang Uskup ialah Stasi St. Petrus Meda. Di Stasi Meda ini, momen yang sama yang pernah saya alami bersama Sang Uskup pada tahun 2020 itu terulang kembali.

Uskup Alo adalah gembala yang setia, dan pribadi yang tegar serta sabar. Secara fisik, Sang Uskup merasa kuat dan terus bertahan karena ia selalu berusaha dan berjuang untuk menjaga agar tubuhnya tetap sehat dalam kondisi apapun. Akan tetapi secara spiritual, kita meyakini dan memberi kesaksian bahwa kekuatan itu adalah anugerah yang Allah berikan kepada Sang Uskup. Sang Uskup pun mengakui dan memberi kesaksian bahwa Allah sungguh-sungguh menjadi dasar dan kekuatan utama bagi dirinya. Ia kuat dan bertahan karena Allah sangat mencintainya. Kemampuan Sang Uskup dalam menyikapi segala tantangan, baik tantangan dari dalam diri maupun dari luar dan berani melangkah, karena ia senantiasa dekat dan mengalami persatuan dengan Allah.

Uskup Alo adalah sang pendoa sejati. Ia mengungkapkan dirinya sebagai pribadi yang “ringkih” (rapuh). Namun di dalam kerapuhannya, justru Tuhan menunjukan kasih-Nya yang berlimpah seperti kata Santo Paulus kepada jemaat di Korintus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurnya” (2 Kor. 12:9-10). Melalui doa dan perjumpaan dengan Tuhan di dalam kurban ekaristi, kontemplasi dalam keheningan batin, serta refleksi yang mendalam, Sang Uskup menemukan kekuatan dari Allah yang melampaui keberadaan dirinya dan menembus batas tantangan yang dialaminya dalam karya pengembalaan umat di Keuskupan Agats. Kemampuan Sang Uskup dalam menyikapi setiap orang bahkan setiap persoalan, lahir dari sikap batinnya yang tenang disertai daya refleksinya yang dalam.

Kita pun mengalami bahwa kehidupan ini tak dapat luput dari tantangan dan persoalan. Akan tetapi setiap persoalan apapun tidaklah harus mengalahkan harapan dan keyakinan, serta optimisme. Wilayah Keuskupan Agats yang membutuhkan energi dan perhatian yang ekstra, serta pelayanan pastoral yang membutuhkan biaya operasional yang cukup tinggi, tidak hanya menjadi tantangan tersendiri, namun sekaligus menjadi peluang bagi Sang Uskup untuk selalu mencari solusi dan bertumbuh dalam kebijaksanaan hidup. Tanpa sikap batin yang tenang, doa, serta daya refleksi yang dalam yang melibatkan Tuhan, maka menjadi tidak mungkin sebuah Keuskupan dapat bertahan dalam pelayanannya di tengah keterbatasan finansial dan rendahnya kuantitas tanaga imam. Sejarah terukir di seantero Nusantara bahwa Gereja Lokal Keuskupan Agats senantiasa berdiri kokoh, tetap bertahan dan terus maju melintasi setiap arus perubahan zaman dalam kegembalaan gembala umat di setiap masanya.

Penutup

Kita patut bersyukur karena Tuhan memberikan Sang Gembala yang baik bagi kawanan domba-Nya di Keuskupan Agats. Pastores Dabo Vobis: Aku memberikan kepadamu gembala-gembala-Ku. Uskup Alo adalah anugerah dan hadiah terindah dari Allah untuk kita semua. Ia siap sedia untuk melayani seperti Kristus yang senantiasa taat kepada kehendak Bapa-Nya untuk membawa keselamatan bagi dunia. Allah telah memilih dan mengutus Uskup Alo menjadi gembala umat Keuskupan Agats selama 23 tahun. Dengan kasih-Nya, Allah pulalah yang menuntun Sang Uskuplewat pelbagai cara, sehingga misi Kerajaan Allah tetap terlaksana di tanah lumpur Asmat. Banyak penderma yang bermurah hati menolong dan membantu karya pelayanan di Keuskupan Agats dengan dukungan finansial dan dengan pelbagai bentuk perhatian. Semuanya ini mengungkapkan: “Sungguh, betapa besar Kasih Allah bagi umat di Keuskupan Agats tercinta melalui kehadiran Sang Gembala kita, Mgr. Aloysius Murwito, OFM.”

Profisiat Bapa Uskup Alo atas anugerah 75 tahun usia kelahiran. Terima kasih Bapa Uskup. Kehadiran dan cinta dari Bapa Uskup bagi semua kawanan domba penggembalaan sangatlah meneguhkan dan memampukan kami untuk berkata dengan penuh harapan dan keyakinan bahwa “Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.”

Dormommmmooooo……

Posting Komentar untuk "Refleksi Tentang Gembala Keuskupan Agats: Mgr. Aloysius Murwito, OFM"