Manusia
Sejati
Judul ini diuraikan dalam tiga
bagian yaitu 1) Pribadi Yang Cerdas, 2) Pribadi yang berkarakter dan beriman,
dan 3) Pribadi yang bertanggungjawab, peduli dan mampu merawat bumi.
Bagian
2. Pribadi yang berkarakter
Pribadi
yang berkarakter berarti mampu mengintegrasikan atau menyatukan pemahaman atau
pengetahuannya dalam cara berpikir, sikap, perilaku, tutur kata dan kepribadian
yang baik. Manusia harus bertindak baik dan benar, serta mampu bersikap adil.
Ia menjadi contoh, teladan dan panutan bagi orang banyak. Misalnya menjadi
cendekiawan yang sekaligus ramah dan sopan, atau pun menjadi pemimpin yang
dikagumi rekan-rekannya karena jujur, adil, dan murah hati.
Ada
dua orang dengan latar belakang yang berbeda. Satunya adalah cendekiawan dan
satunya adalah seorang pemimpin. Cendekiawan itu terkenal hebat. Ia hadir
membawa seminar di mana-mana. Ilmunya sangat berbobot dan dibagikan kepada
orang-orang. Banyak orang mengaguminya karena meski berilmu namun ia ramah dan
sopan terhadap siapapun. Ia tidak egois dan menyimpan ilmu, namun selalu
berbagi kepada siapapun yang datang meminta pertolongannya. Demikian pula
seorang pemimpin. Ia memiliki banyak karyawan dan rekan kerja. Semua orang yang
bekerja dengannya merasa bahagia dan senang. Mereka bersyukur memiliki pemimpin
yang jujur, adil, dan murah hati. Ia tidak bertindak semena-mena terhadap
rekan-rekan kerjanya dan tidak memerintah dengan tangan besi. Ia justru rendah
hati dan murah hati, serta selalu merangkul dan mempersatukan mereka.
Akan tetapi, disadari bahwa hidup yang baik, jujur, rendah hati, murah hati, ramah dan sopan itu belumlah cukup. Sebagai bagian dari karakter pribadi manusia, sifat atau kualitas baik, jujur, sopan dan sebagainya belumlah cukup karena manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup dan berada di tengah dunia. Manusia yang kepribadian dan hidupnya baik, namun jika ia membatasi dirinya dengan dunia atau tidak peduli dengan sesama dan alam sekitar, maka ia sendiri jatuh pada sikap individualistis, egoistis dan indiferentis.
Makna dari alur cerita ini adalah
pentinya manusia memiliki kemampuan untuk peduli dan bertanggungjawab untuk
merawat bumi.

Posting Komentar untuk "Manusia Sejati (Part 2)"