Bacaan
I. Yoel. 2:12-18
Mazmur
Tanggapan. Mzr 51:3-4.5-6a.12-13.14.17
Bacaan II. 2 Korintus. 5:20-6:2
“Bapamu yang
melihat yang tersembunyi, akan mengganjar engkau”
Saudara-saudariku, setiap orang butuh untuk dipuji,
dihormati, dan dihargai oleh sesama. Kita dipuji karena kekayaan pengetahuan dan
gelar akademik. Kita pun dipuji karena kefasihan lidah dalam berbicara atau
berkata-kata. Demikian pula kita dipuji karena perbuatan-perbuatan baik kita
yang dilihat dan disaksikan oleh banyak orang.
Tatkala mendapat pujian dan feedback yang positif
serta menyenangkan dari sesama, kita pasti bahagia, senang, dan bersemangat. Saudaraku,
pujian itu amat baik bagi kita. Namun, apakah kita melakukan sesuatu yang baik
hanya demi ingin mendapat pujian orang? Jika demikian, apalah artinya jika pujian
orang menjadi syarat perbuatan baik kita? Jika tidak dipuji orang, apakah kita
pun berhenti berbuat baik?
Yesus menyadarkan dan mengingatkan kita sama seperti
para murid-Nya. Ia berkata, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban
agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Jika demikian, kalian tidak beroleh
upah dari Bapamu yang di surga.” Ada tiga kewajiban agama yang dialamatkan oleh
Yesus.
Pertama, memberi sedekah. Yesus berkata, “apabila
engkau memberi sedekah, janganlah mencanangkan hal itu seperti dilakukan orang
munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat
yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Kedua, berdoa. Yesus berkata, “apabila kamu berdoa,
janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan
berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya
dilihat orang. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah
pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu
yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Ketiga, berpuasa. Yesus berkata, “apabila kamu
berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air
mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Tetapi apabila
engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat
orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di
tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Saudaraku, marilah kita menjalani hidup dan berbuat
baik bukan pertama-tama supaya diketahui dan dipuji orang dan dengan demikian
kita menjadi orang terkenal, hebat dan saleh. Namun lakukanlah itu dari hati
yang tulus dan murni. Dengan demikian, kita akan mendapat upah surgawi dari
Bapa kita yang melihatnya.
Kita adalah manusia yang rapuh dan berdosa. Kita
sering jatuh dalam pujian dan kesombongan diri. Kita bagaikan abu dan debu yang
kotor dan kecil; simbol kedosaan dan kelemahan manusiawi kita.
Saudaraku, melalui masa tobat, pantang dan puasa (Prapaskah)
ini, kita disadarkan akan betapa pentingnya mendapat upah dari Bapa di surga bukan
lewat perbuatan-perbuatan baik bermotiv pujian sebagaimana telah sering kita
lakukan. Kita mesti bertobat dan kembali membaharui diri untuk selalu dekat
dengan Tuhan dan melakukan hal-hal baik dengan motiv kasih yang bersumber dari hati
yang tulus dan murni. Tuhan Yesus
senantiasa membarkatimu, saudaraku.

Posting Komentar untuk "Renungan Harian: Rabu, 18 Februari 2026 (HARI RABU ABU: Pantang dan Puasa)"