Bacaan
I. Kejadian 2:7-9; 3:1-7
Mazmur
Tanggapan. Mzr 51:3-4.5-6a.12-13.14.17
Bacaan
II. Roma 5:12-19
Bacaan
Injil. Matius 4:1-11
“Relasi
persatuan dengan Tuhan adalah dasar dan tujuan dari puasa dan pantang”
Saudaraku, kita pasti mengalami pernah berada pada
titik terendah dalam hidup. Kita mengalami tantangan, rintangan, dan cobaan
berupa kegagalan, kedukaan, kesakitan, penderita dan sebagainya. Dalam situasi
ini, kita tentu tidak ingin mengalami terus-menerus keadaan itu. Sebaliknya
kita ingin untuk keluar dari pengalaman duka, sakit, derita, dan kegagalan. Maka,
kita akan mencari solusi dalam situasi sulit. Kita pun ingin ditolong oleh
sesama.
Secara manusiawi, Yesus pun mengalami pengalaman
yang sama seperti kita. Ia berada dalam situasi sulit. Ia berpuasa selama 40
hari. Secara manusiawi, Yesus ingin untuk makan dan minum dan hal itu diketahui
oleh iblis. Maka, Iblis masuk dalam situasi kesulitan dan kebutuhan manusiawi
Yesus dengan 3 cobaan. Namun, Iblis
tidak berhasil mencobai Yesus.
Yesus menang atas Iblis karena Ia bersatu dengan
Bapa. Ia sadar bahwa semua yang dijalani-Nya ini bukanlah kehedak-Nya semata,
melainkan kehendak Bapa. Bapa mengutus Yesus ke dunia dan menghendaki agar
Yesus menggenapi seluruh rencana Allah Bapa yaitu memulihkan dan menyelamatkan
kembali ciptaan yang telah rusak dan hancur akibat dosa.
Saudaraku, puasa dan pantang tidak bisa terpisah dari persatuan hati dengan Tuhan. Tanpa bersatu dengan Tuhan, puasa dan pantang yang kita jalani tak ada arti. Kita hanya menjalannya sebatas ritual dan kewajiban agama. Kita hanya mengekpresikan diri bahwa kita orang beragama. Tanpa persatuan dengan Tuhan, kita bisa gagal dalam berpuasan dan berpantang. Kita pun bisa jatuh dalam godaan dan cobaan. Kecil atau besar, ringan atau beratnya cobaan itu, kita bisa jatuh jika kita tidak bersatu dengan Tuhan.
Marilah
saudaraku, jadikanlah puasa dan pantang sebagai sarana bagi kita untuk semakin
beriman bahwa hanya Tuhan sajalah kekuatan kita. Kepada dia kita bersatu dan menaruh
harapan karena kita yakin bahwa segala macam hal duniawi akan lenyap kecuali
Tuhan, kekal abadi kasih setia-Nya. Tuhan
Yesus senantiasa memberkatimu, saudaraku.

Posting Komentar untuk "Renungan Harian: Minggu, 22 Februari 2026 (Minggu Prapaskah I)"