Bacaan
I. Yesaya 58:9b-14
Mazmur
Tanggapan. Mzr 86:1-2.3-4.5-6
Bacaan
Injil. Lukas 5:27-32
“Aku datang untuk memanggil orang yang berdosa, bukan orang benar: Sabda Yesus”
Saudaraku, seorang Bapa Gereja dan Teolog ternama
dari Hippo yaitu St. Agustinus pernah berkata, “Meskipun dosa manusia sangat
mendalam, namun cinta dan anugerah Allah jauh lebih besar untuk memulihkan manusia.”
Setiap orang pasti pernah berbuat salah dan dosa, dan
karena itu ia sering dinilai atau dicap jelek oleh orang lain. Kita pasti
merasa sedih bahkan terluka, ketika kita pernah mengalami dijauhi bahkan tidak diakui
keberadaan kita oleh sesama karena kesalahan dan dosa kita. Dalam situasi itu,
kita pasti membutuhkan pertolongan. Mungkin kita sadar dan ingin bertobat, namun satu hal yang pasti adalah kita berharap ada orang yang menerima diri kita.
Lewi adalah si pendosa yang sungguh berbahagia. Ia
berdosa dan telah dilabeli oleh masyarakat pada zamannya sebagai "pendosa" karena
pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Namun, ia sangat diterima dan dikasihi
oleh Yesus. Yesus berkata kepadanya, Ikutlah Aku.” Yesus bahkan menerima tawaran
Lewi untuk makan bersama di rumahanya.
Saudaraku, apakah dirimu mengalami sungguh bahwa
Allah menerima dan mengasihimu meski dirimu rapuh dan berdosa? Ataukan selama
ini kita menjauh dari Tuhan karena kita merasa sudah terlalu banyak berdosa? Apakah kita terlalu malu dan minder
dengan diri dan sesama karena sudah terlanjur dinilai sebagai pribadi yang buruk dan
jelek oleh sesama? Atau sebaliknya, kitalah yang menambah salib dan beban berat bagi sesama dengan menyalahkan, menilai, menghukum, dan menjauhinya?
Saudaraku, jangan cemas, takut dan gelisah. Kita
seperti Lewi yang sering selalu disalahkan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat
bersungut-sunggut kepada murid-murid Yesus katanya, “Mengapa kamu makan dan
minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Namun Yesus
berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku
datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka
bertobat.”
Saudaraku, sadarlah bahwa kita dikasihi Tuhan.
Selami dan rasakanlah getaran kasih Tuhan bagi kita, karena pertobatan terjadi
karena kasih Allah yang kita rasakan dan alami. Tanpa merasa dikasih Allah,
kita tak akan mengalami rahmat pertobatan yang sesungguhnya.
Saudaraku, bertobat berarti, kita seperti Lewi. Ketika
dipanggil oleh Yesus, “Ikutlah Aku”, maka kita dapat berdiri
dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus kemanapun Yesus pergi.
Itulah arti dan makna pertobatan. Berdiri berarti kita berani mengambil keputusan untuk
mengikuti Yesus, meninggalkan segalanya berarti kita tidak tinggal dalam gaya hidup lama,
dan mengikuti Yesus berarti selama-lamanya kita tetap setia menjadi murid Yesus. Tuhan Yesus senantiasa memberkatimu, saudaraku.

Posting Komentar untuk "Renungan Harian: Sabtu, 21 Februari 2026"