Bacaan
I. Imamat 19:1-2.11-18
Mazmur
Tanggapan. Mzr 19:8.9.10.15
Bacaan
Injil. Matius 25:31-46
“Apa yang kamu
lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, itu kau lakukan untuk Aku”
Saudaraku, ada seorang pria tua yang sudah lama pensiun
setelah mengabdi puluhan tahun sebagai guru SD di sebuah desa terpencil. Namanya
Pak Iskandar. Ia tiba-tiba didatangi seorang Pilot ternama dalam sebuah acara
sederhana di alun-alun kota. Ketika itu, sang Pilot langsung menyambangi, menjabat
tangan dan mencium tangannya sambil berkata, “Terima kasih Pak Guru, saya sudah
berhasil karena didikan Pak Guru sejak dulu di SD. Pak Iskandar terheran-heran
dan penasaran dengan pria muda berwibawa itu. Ia lalu bertanya, “siapa namamu?”
Jawab sang Pilot, “Saya Anton yang sering dimarahi dan dipaksa oleh Pak Guru
supaya harus bisa membaca dan menulis dengan baik dan lancar. Sekarang saya
sudah berhasil. Tanpa Pak Guru, saya tak mungkin bisa menggapai cita-cita saya.
Terima kasih banyak Pak Guru.” Rasa haru penuh syukur menjadi saksi dari momen benih kebaikan yang ditaburkan puluhan tahun silam. Anton dan Pak Iskandar terharu dan saling merangkul.
Sebagai ucapan terima kasih, Anton menghadiahkan tiket pesawat kepada gurunya untuk
berlibur ke beberapa daerah wisata terkenal. Saudaraku, berkat itu selalu mengalir
bagi mereka yang tulus berbuat baik kepada siapapun.
Kedatangan Anak Manusia diumpamakan
sebagai raja yang bersemayam di atas takhta kemuliaan. Ia mengumpulkan semua
bangsa, lalu memisahkan domba-domba di sebelah kanan, sementara kambing-kambing
di sebelah kiri-Nya.
Saudaraku, kebaikan yang kita taburkan akan bertumbuh
subur dan berbuah masak. Demikian kata-kata sang raja kepada domba-domba, “Mari,
hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan
bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi
Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Orang-orang benar itu bertanya, “Tuhan, bilamana
kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan atau haus dan kami
memberi Engkau minum, memberi tumpangan, pakaian, atau melawat Engkau? Maka
Raja itu berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku.” Sementara itu, kepada orang-orang yang di sebelah
kiri, Ia berkata, "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk,
enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan
malaikat-malaikatnya.” Mereka semua masuk ke dalam siksaan yang kekal, tetapi
orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.
Saudaraku, mungkin kita pernah bangga bahwa kita
telah melakukan banyak hal. Dengan ilmu dan profesi kita, kita telah melakukan
banyak karya-karya besar. Oleh karena itu, kita merasa bangga dan
berpuas diri bahkan angkuh atau sombong. Namun Mother Teresa pernah berkata, “Lakukanlah hal-hal kecil dan
sederhana, namun dengan cinta yang besar.”
Saudaraku, bukan soal seberapa banyak dan seberapa
besarnya karya-karya dan pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Hidup kekal
justru dianugerahkan oleh Allah bagi mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan baik yang kecil dan sederhana, namun dengan cinta yang besar. Kepada siapa kita berbuat baik? Jawab
Yesus, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina
ini, itu kau lakukan untuk Aku.” Momen Puasa dan Pantang adalah saat dimana kita memperbaharui kembali diri kita untuk selalu dapat menanggapi undang rohani: "Mari kita melayani Tuhan melalui saudara-saudara yang lemah di sekitar kita." Tuhan
Yesus senantiasa memberkatimu, saudaraku.

Posting Komentar untuk "Renungan Harian: Senin, 23 Februari 2026 (Pekan Prapaskah I)"