“Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”

 


“Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”

Tahun 2025 telah berlalu, namun roda cerita dan kisah-kisah bermakna terus berputar melintasi ruang dan waktu. Sebagaimana kata sang penyair, Pengalaman adalah buku yang tak pernah tertutup, halamannya penuh tinta dari deretan kisah. Setiap goresan mengajarkan arti bertahan, setiap tantangan menumbuhkan keberanian untuk bangkit. Belajarlah dari jejak yang telah terukir, karena dari sana lahir kebijaksanaan. Biarkan setiap pengalaman yang dilalui menjadi cahaya lembut, yang menuntun langkah menuju hari esok.”

Tahun 2026 membawa harapan baru bagi segenap keluarga besar Keuskupan Agats. Sebagai satu keluarga, kita hidup dan berjalan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan. Maka hendaknya kita senantiasa menyadari bahwa melalui kita, Allah hadir untuk menyapa dan menyelamatkan sesama. Kehadiran-Nya yang menyelamatkan semua orang menjadi harapan tidak hanya bagi kita sebagai keluarga Keuskupan Agats yang dipersatukan oleh visi dan misi yang sama untuk mewartakan Kristus dan mengembangkan iman umat Allah di tanah Asmat melalui karya pastoral, melainkan terlebih bagi keluarga-keluarga yang dipersatukan melalui sakramen perkawinan dan dipanggil oleh Allah untuk menjadi sakramen keselamatan melalui kesaksian hidup di dalam rumah tangga masing-masing. 

Harapan manusia akan keselamatan Allah berpijak dan bersumber dari kehadiran Kristus. Karl Rahner (1904–1984), seorang imam Yesuit dan teolog Katolik Jerman, salah satu pemikir paling berpengaruh dalam teologi Katolik abad ke-20. Ia dikenal karena gagasannya tentang “Anonymous Christian” dan perannya besar dalam Konsili Vatikan II. Rahner memahami harapan sebagai “Orientasi mendasar manusia kepada Allah, yang berakar pada keyakinan akan keselamatan universal. Harapan bukan sekadar optimisme psikologis, melainkan sikap iman yang menantikan pemenuhan janji Allah dalam Kristus.” Singkatnya, harapan Kristen menurut Rahner adalah harapan akan keselamatan (the hope of salvation). Harapan adalah iman yang menantikan keselamatan dari Allah.

Terinspirasi dari perayaan 5 Januari 2026 (dalam Perayaan Natal Bersama Keuskupan Agats), kita disadarkan pada sebuah kenyataan akan Keluarga yang sesungguhnya menjadi tempat rencana keselamatan Allah. Allah memilih keluarga sebagai sarana keselamatan dimana relasi kita yang retak dengan sesama dan dengan Allah dipulihkan oleh Kristus. Melalui keluarga Kudus (Yesus, Maria, dan Yosep), keselamatan menjadi kesaksian yang sungguh dirasakan oleh seluruh umat manusia. Keselamatan Allah sungguh nyata dan dapat dialami secara universal jika setiap keluarga taat pada rencana kehendak Allah untuk memberi kesaksian hidup yang baik dan benar di tengah dunia.

Tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Tiada cinta dan kebahagiaan tanpa pengorbanan. Dengan berjalan ke Galilea untuk memulai perwartaan publik, Yesus melangkah dan memilih jalan pengorbanan dan salib untuk hidup seutuhnya bagi manusia. Yesus mengubah orientasi iman. Iman yang sesungguhnya tidaklah berorientasi pada ruang atau tempat yaitu Nazaret, tetapi pada keterbukaan hati setiap orang untuk mendengar dan melaksanakan sabda Allah dalam situasi apapun kendati menuntut salib pengorbanan. Agustinus pernah menulis, “Salib adalah kursi pengajaran Kristus; di atasnya Ia mengajar kasih yang tertinggi.” Dengan kata lain, salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi juga pintu masuk menuju kebebasan dan keselamatan.

Sudah saatnya kita meninggalkan Yerusalem dan diam di Kapernaum. Artinya, kita harus berani meninggalkan suasana nyaman yang semu baik tempat tinggal, relasi, kebiasaan dan hal apapun yang membentengi dan menutup relasi kasih kita dengan sesama dan Tuhan. Dengan memilih tinggal di dalam keadaan dan tempat yang nyaman terus-menerus, kita tidak berani untuk berubah menjadi lebih baik. Kita harus tinggal di Kapernaum; tempat tinggal orang miskin, sakit, menderita kelaparan, tertindas, mengalami ketidakadilan dan rupa-rupa pergumulan hidup. Di tempat inilah, kita menjadi pembawa-pembawa harapan bagi mereka akan keselamatan dari Allah. Dalam dunia seperti inilah, Yesus memulai proyek Allah yang direncanakan-Nya untuk semua umat manusia di muka bumi. Maka, bangunlah dan bukalah pintu hati kita yang telah lama terkunci. Kita harus satukan hati dan berjalan bersama untuk membangun misi Kerajaan Allah melalui kehadiran, pastoral care, solidaritas, dll. Cinta berarti “Hadir sepenuhnya bagi orang lain”, menurut Gabriel Marcel, sang Filsuf Eksistensialis. Artinya, cinta sebagai kehadiran yang sejati bukan sekadar perasaan romantis, melainkan keterlibatan penuh antara pribadi dengan pribadi. Menurut Gabriel Marcel, cinta adalah jalan menuju pengakuan akan martabat manusia dan misteri keberadaan. Marilah menjadi pribadi, komunitas, dan keluarga-keluarga Kristiani dimana cinta Allah sungguh nyata, hadir dan menyelamatkan sesama. Dormomoooo…..

Posting Komentar untuk "“Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”"