Bacaan Pertama (Daniel 13:41c-62)
Mazmur (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6)
Bacaan Injil (Yohanes 8:1-11)
“Aku tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan
berbuat dosa lagi.”
Saudara-saudari terkasih, melalui bacaan-bacaan pada
hari ini, kita sungguh merasakan dan mengalami betapa besarnya kasih dan
kerahiman Allah bagi manusia. Dalam bacaan pertama, kasih dan kerahiman Allah
terungkap dalam dan melalui sosok Daniel. Ia tampil untuk membela Susana yang
dijatuhi hukuman mati atas tunduhan berbuat serong.
Dengan tuntunan roh Allah, Daniel berkata, “Aku
tidak bersalah terhadap darah perempuan itu.” Melalui proses dialog dan
pemecahan masalah, Daniel berhasil membuktikan dengan mulut mereka sendiri
(para tua-tua) bahwa mereka telah memberikan kesaksian palus. Kalimat akhir
dari bacaan pertama bunyinya, “Demikian pada hari itu diselamatkan darah orang yang
tidak bersalah.”
Kasih dan kerahiman Allah ditunjukkan oleh Yesus
secara jelas dan nyata melalui pikiran, perkataan, dan sikap-Nya terhadap
seorang wanita yang mau dilempari batu oleh para ahli Taurat dan orang Farisi karena
kedapatan berbuat zinah. Dengan pikiran dan kata-kata-Nya, Yesus berkata kepada
mereka, “Barang siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang
pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kemudian Yesus membungkuk dan
menulis di tanah.
Para exeget mengartikan sikap Yesus ini dan melihat
Yesus sebagai Legislator Baru (Penulis Hukum). Tindakan Yesus menulis di tanah
merujuk pada Allah yang menulis Hukum Taurat yakni dua loh batu, dan Yesus
sebagai Allah, sedang menulis “Hukum Kasih” yang baru di atas debu/tanah. Tanah
melambangkan kerapuhan dan cacat cela manusia yang diselamatkan oleh kasih
Allah yang tak terbatas.
Mendengar perkataan Yesus, pergilah seorang demi
seorang mulai dari yang tertua. Lalu Yesus bertanya kepada perempuan, “Hai perempuan,
dimanakah mereka”? Jawabnya, “Tidak ada”. Lalu Yesus pun berkata, “Aku pun
tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari
sekarang.”
Saudaraku-saudari, dengan menunjukan sikap hati-Nya
yang berbelas kasih, Yesus menjungkirbalikan legalisme dan formalisme aturan
dan hukum yang ketat dan kaku, dan sebaliknya menempatkan martabat manusia pada
posisi sentral dalam hidup, bukan sebagai obyek, tetap subyek yang harus
dihargai, dilindungi, dan diselamatkan.
Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Dives in Misericordia menegaskan bahwa, “Belas
kasih bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan dan kesetiaan Allah.
Jabawan atas dunia modern yang sekular, kaku dan dingin. Belas kasih bukan
hanya perasaan tetapi tindakan nyata: mengampuni, memahami, dan menghormati
martabat manusia terutama mereka yang terluka, miskin, taraibaikan dan
membutuhkan harapan.”
Sudaraku, marilah kita memaknai masa prapaskah ini
sebagai momen yang tepat membarui diri dan untuk belajar mengasihi; mengasihi
dalam konteks hidup berkeluarga, hidup berkomunitas, dan menghasihi sebagai
sesama rekan kerja. Kita mengasihi seperti Yesus mengasihi yang ditunjukan-Nya
pada Tri Hari Suci yang berpuncak pada hari paskah. Tuhan memberkati kita sekalian, amen.

Posting Komentar untuk "Renungan Harian: Senin, 23 Maret 2026"